Moeslim.id | Perang Iran melawan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada keamanan dan ekonomi, tetapi juga dapat memperburuk krisis iklim.
Pengaruhnya memang tidak langsung mengubah cuaca saat itu juga, tetapi konflik di kawasan energi dunia membuat negara-negara kembali bergantung pada bahan bakar fosil ketika pasokan terganggu.
International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pada 2025 sekitarĀ 20 juta barel per hariĀ minyak dan produk minyak melintasi Selat Hormuz, atau sekitarĀ 25% perdagangan minyak laut dunia.
Jika jalur ini terganggu dalam waktu lama, pasar energi global akan tertekan dan banyak negara cenderung memprioritaskan keamanan pasokan energi daripada percepatan transisi rendah karbon.
Dari sisi iklim, masalah terbesarnya adalahĀ transisi energi bersih bisa melambat. Ketika harga minyak dan gas naik, fokus banyak negara biasanya bergeser ke menjaga ketersediaan energi jangka pendek, bukan mengurangi emisi.









