Mengenal Sejarah dan Perbedaan Peci, Kopiah dan Songkok

MOESLIM.ID | Peci, jika merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah penutup kepala yang terbuat dari kain atau sebagainya. Peci biasanya berbentuk meruncing di kedua ujungnya dan biasanya digunakan oleh para pria. Nama lainnya adalah kopiah atau songkok.

Dilansir dari historia.id, peci sudah terkenal di Indonesia sejak abad 15. Peci terkenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Kala itu, Raja Ternate Zainal Abidin sempat belajar agama di Madrasah Giri. Sekembalinya ke kampung halaman, dia membawa peci sebagai buah tangan. Saking berharganya peci, penutup kepala tersebut bisa ditukar dengan rempah-rempah atau cengkeh.

Masyarakat Melayu akrab dengan penutup kepala seperti  peci, kopiah dan songkok. Ketiganya merupakan tiga jenis topi penutup kepala bagi laki-laki. Meskipun memiliki fungsi yang sama, nyatanya ketiga jenis topi ini punya sejarah yang berbeda-beda.

  1. Peci

Istilah peci mulai dikenal sejak masa penjajahan Belanda. Kala itu dikenal dengan sebutan ‘petje’, yaitu kata ‘pet’ yang diberi imbuhan ‘-je’ atau ‘tje’ yang makna harfiahnya berarti ‘kecil’.

Bentuk fisik dari peci biasanya bulat, berbeda dengan kopiah yang berbentuk lonjong. Motif dan kreasi dari peci pun lebih beragam, jika dibandingkan dengan kopiah.

  1. Kopiah

Istilah kopiah ternyata diambil dari kata Arab ‘keffieh’, ‘kaffiyeh’, atau ‘kufiya’. Namun nyatanya, bentuk fisik dari kaffiyeh berbeda dengan kopiah yang bias akita lihat. Kaffiyeh dbuat dari bahan kain katun segi empat yang ditangkupkan di atas kepala. Biasanya, pola kain kaffiyeh berbentuk kotak-kotak kecil seperti jala ikan. 

Sementara itu, kopiah biasanya berwarna hitam, berbentuk lonjong, pipih di dua ujungnya. Bagian luar kopiah dibuat dari bahan jenis beludru yang lembut.

  1. Songkok

Songkok dalam bahasa Inggris dikenal istilah ‘skull cap’. Yakni dari skull yang berarti batok kepala, cap yang berarti topi. Skull cap ini berbentuk setengah lingkaran dan menutupi bagian ubun-ubun kepala.

Wilayah Melayu yang dahulu dijajah oleh Inggris, istilah ‘skull cap’ mengalami perubahan pelafalan. Dari yang semula bunyi ‘skol-kep’ menjadi ‘song-kep’. Dan akhirnya menjadi ‘song-kok’. Istilah songkok di nusantara cukup populer pada zaman Presiden Soekarno. Namun kini, nama songkok sudah langka digunakan, orang lebih sering menyebut peci.(bbs)