Bolehkah Menikah Dengan Keponakan (Anak Saudara)?

Ilustrasi maskawin pernikahan. (Foto: Net)

MOESLIM.ID | Keponakan atau kemenakan adalah sebutan dalam hubungan/sistem kekerabatan yang merunjuk pada anak dari saudara. Saudara yang dimaksud biasanya adalah saudara kandung (kakak maupun adik, laki-laki maupun perempuan).

Lawan dari kata keponakan adalah paman atau bibi. Keponakan (anak saudara) termasuk mahram, sehingga tidak boleh menikahi keponakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan beberapa wanita yang haram dinikahi,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ

”Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua).” (QS. An Nisa: 23)

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan diantara wanita yang haram dinikahi,

وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ

”…anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…”

Dalam hadis dari Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu, bahwa beliau pernah melihat pamannya membawa bendera.

“Paman mau ke mana?” tanyaku.

Jawab sang paman,

أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ، أَوْ أَقْتُلَهُ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku untuk menangkap seorang lelaki yang menikahi istri bapaknya setelah bapaknya meninggal, agar aku memenggal kepalanya. (HR. Ahmad 18557, Nasai 3331, Turmudzi 1362)