
Namun, berkat pembinaan dan pemantauan kesehatan yang intensif, jemaah tetap dapat menjalani ibadah dengan aman. Vaksinasi Covid-19 dan influenza yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga turut mendukung ketahanan fisik jemaah.
Upaya pembinaan kesehatan sejak awal menjadi salah satu kunci utama keberhasilan. “Pembinaan kesehatan sejak T-1 tahun sebelum keberangkatan rata-rata mencapai 99,9 persen. Namun yang perlu ditingkatkan adalah pembinaan sejak dua tahun sebelumnya (T+1), yang saat ini baru mencapai 9,7 persen,” ungkap Liliek.
Ia mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan calon petugas haji, asosiasi haji, serta pemda dalam pembinaan jemaah. Pemeriksaan kesehatan gratis, skrining JKN, integrasi data antara Kemenkes, Kemenag, dan BPJS juga akan diperkuat untuk mempercepat proses penetapan istitaah.
Pusat Kesehatan Haji, tambahnya, akan terus meningkatkan kualitas layanan serta merespons tantangan penyelenggaraan haji, termasuk perubahan kebijakan dari Arab Saudi dan kondisi lingkungan ekstrem di tanah suci.
Dengan semangat kolaborasi dan pembenahan sistemik, Liliek optimistis bahwa pelayanan kesehatan haji Indonesia akan semakin prima dalam melindungi jemaah dan memastikan ibadah mereka berjalan khusyuk, sehat, dan aman.(*)








