
Di Burkina Faso, gerakan Arabis dan Islamis dipandang sebagai kontra-budaya terhadap gaya modernitas Eropa, dan juga sebagai cara untuk mengintegrasikan kelompok-kelompok etnis yang berbeda yang membentuk populasi Muslim di negara tersebut.
Pendidikan madrasah, yang dimulai tepat setelah Perang Dunia II, kini melayani setengah dari populasi Muslim, meskipun hanya sebagian kecil yang mencapai tingkat menengah.
Islam juga diperkuat oleh pembangunan masjid, dakwah di televisi nasional, pengakuan resmi festival Muslim, dan dukungan dari dunia Arab.
Pendidikan madrasah menarik bagi kelas menengah bawah, yang dikecualikan dari kekuasaan politik, yang mendukung negara berdasarkan syariah. Namun, gerakan-gerakan Islam terbagi menjadi banyak faksi.(*)








