
Ia tersenyum dan berkata; “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”.
Di samping itu, Asy Sya’bi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang utama. Ia tidak suka debat kusir dan berusaha menjauhkan diri dari pembicaraan-pembicaraan yang tak bermanfaat. Suatu kali seorang sahabatnya berkata; “Wahai Abu Amru!”.
Ia berkata; “Labbaik”. Orang itu bertanya; “Bagaimana pendapatmu tentang perbincangan orang berkenaan dua orang itu?”. Ia berkata; “Dua orang yang mana?”. Dia menjawab; “Utsman dan Ali”.
Ia menjawab; “Demi Allah, aku tidak ingin pada hari kiamat nanti menjadi musuh bagi Utsman bin Affan atau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma”.
Sungguh telah berkumpul pada diri Asy Sya’bi antara ilmu dan kelapangan dada. Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang menuduhnya dengan tuduhan yang keji dan memaki dengan kata-kata kotor, namun tiada yang dikatakan Asy Sya’bi selain kalimat; “Jika memang apa yang Anda tuduhkan kepada saya itu benar, mudah-mudahan Allah mengampuni saya. Namun jika ternyata tuduhanmu dusta, maka semoga Allah mengampunimu”.








