Ketekunan Imam Syafi’i Dalam Mencari Ilmu dan Menghafal Al Qur’an

Ketekunan Imam Syafi’i dalam mencari ilmu dan menghafal Al Qur'an. (Foto: Net)

MOESLIM.ID | Imam Syafi’i memiliki nama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin Al Abbas bin Utsman bin Syafi bin As Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay.

Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin Al Muththalib.

Beliau dilahirkan pada tahun 150. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh Al Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Baca Juga:  Kerajaan Saba, Dari Kemakmuran Hingga Kehancurannya

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Di Mekkah, Imam Syafi’i dan ibunya tinggal di dekat Syi’bu Al Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal.

Baca Juga:  Kisah Nabi Musa Melawan Kedzaliman Raja Fir'aun

Imam Syafi’i bercerita, “Di Al Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, ‘Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.’” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Baca Juga:  Kisah Nabi Khidir Mengajarkan Ilmu Kepada Nabi Musa