
Sampailah waktu yang telah direncanakan, Aswad Al Ansi memasuki lapangan yang telah dipadati manusia. Dia berjalan dengan kawalan ketat, kemudian duduk di atas kursi kebesaran di depan api yang menyala-nyala.
Sejurus kemudian, Abu Muslim Al Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lau berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat seraya bertanya,
Aswad berkata; “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?. Abu Muslim menjawab; “Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi”.
Dahi Aswad Al Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah. Aswad; “Apakah Engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?. Abu Muslim; “Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu”.
Aswad; “Kalau begitu, aku akan mencampakkanmu ke dalam api itu”. Abu Muslim; “Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka”.








