Moeslim.id | Semakin naik pitamlah Aswad Al Ansi mendengar ketegasan jawaban, ketenangan serta ketegarannya. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim Al Khaulani dicampakkan ke dalam api, tapi tangan kanannya berusaha mencegahny.
Aswad Al Ansi berbisik di telinga Abu Muslim Al Khaulani; “Anda tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis. Bila Anda lemparkan dia ke dalam api lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap, karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik Anda melepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang dan bisa santai”.
Nabi palsu itu menerima saran tersebut. Dia membekaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman.
Berangkatlah Abu Muslim Al Khaulani menuju Madinah dan sangat berharap dapat menjumpai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau sudah beriman sebelum bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallam dan rindu untuk mendampingi beliau sebagai sahabat.
Tapi sayang, belum lagi memasuki Madinah, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu terpilih sebagai khalifah kaum muslimin. Tak terkira betapa kecewa beliau mendengarnya.









