
Qutaibah berkata; “Apa yang tengah dilakukannya?”. Mereka berkata; “Bersandar pada tombaknya, menata ke depan sambil mengarahkan telunjuknya ke langit untuk berdoa. Apakah Anda menginginkan agar kami memanggilnya?”.
Qutaibah; “Tidak perlu, biarkanlah dia. Demi Allah, telunjuknya itu (doanya) lebih aku sukai dariapada seribu pedang pilihan yang dihunus oleh seribu pemuda jagoan. Maka biarkanlah dia berdoa, kita mengetahui bahwa doanya mustajab”.
Perang pun berkecamuk, dua pasukan besar saling menerjang laksana singa yang hendak menerkam mangsanya. Kedua pasukan bertemu laksana dua gelombang air bah yang saling bertabrakan. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ketenangan dalam jiwa pasukan Islam dan membantu dengan ruh kekuatan dari-Nya.(*)
Bersambung…








