Kisah Zainul Abidin Ali, Cucu Ali Bin Abi Thalib

Unta di padang pasir
Unta di padang pasir. (Foto: Net)

Beberapa waktu kemudian, Allah pun memuliakan beliau, tidak lama kemudian beliau dikaruniai seorang anak yang tampan. Beliau memberinya nama Ali, sama dengan nama kakeknya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

Hanya saja, kebahagiaan itu tak lama dirasakan Ghazalah. Ia segera memenuhi panggilan Rabb-nya akibat pendarahan terus-menerus sesudah melahirkan. Sehingga tidak ada kesempata bagi beliau untuk bersenang-senang dengan anaknya.

Kini, anak tersebut dirawat oleh seorang budak wanita. Dia dicintai seperti darah dagingnya sendiri, dipelihara lebih baik daripada anaknya sendiri. Maka si kecil itu tumbuh tanpa mengenal ibu lain selain budak wanita itu.

Baca Juga:  Kisah Abul Hasan Al Asy’ari Kembali Dari Penyimpangan

Menginjak usia remaja, Ali bin Husein sangat tekun dan antusias menuntut ilmu. Madrasah pertama beliau adalah rumahnya sendiri, rumah yang paling mulia dan gurunya pun ayahandanya sendiri. Madrasah yang kedua adalah Masjid Nabawi Asy Syarif yang ramai dikunjungi sisa-sisa shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan generasi pertama tabi’in.

Mereka begitu bersemangat mendidik para putra shahabat utama. Mengajari Kitabullah, fiqih, serta riwayat hadis-hadis nabi shallallahu alaihi wasallam sesuai dengan target dan obyek yang ditujunya. Juga menceritakan tentang perjalanan dan perjuangan Rasulullah, tentang syair-syair Arab dan keindahannya.