Syarat Do’a yang Diijabah Seperti Nabi Ibrahim dan Ismail

Ilustrasi doa di depan Ka’bah. (Foto: Net)

Cobalah kita renungkan, bagaimana keduanya menghadirkan khauf (rasa takut) dan raja (rasa harap); cemas kalau Allah tidak berkenan menerima amal keduanya. Mereka tengah berada dalam amal shalih nan agung, namun masih memohon dengan penuh tunduk dan tawadhu’ agar amalnya diterima.

Bagaimana pula dengan kita yang penuh keteledoran dan kealpaan?. Seperti itulah seharusnya keadaan seorang Mu’min.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Mu’minun: 60)

Baca Juga:  Bagaimana Cara Menyewakan Lahan Pertanian Sesuai Syariat?

2. Diterimanya amal menjadi hal yang sangat urgen

Yang tercermin dalam keikhlasan dan mengikuti Sunnah. Seorang hamba harus membersihkan dirinya dari sum’ah, riya’ dan ujub, karena Allah lah Yang Maha Mendengar doa dan Maha Tahu segala niat hamba-Nya.

3. Disyariatkannya bertawassul kepada Allah dalam berdoa

Yaitu dengan Asma dan Sifat Allah yang sesuai dengan permintaannya, bukan dengan kebesaran (jah) atau hak si fulan dan semacamnya.