Moeslim.id | Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata; “Demi Allah, memang tidak ada maksud lain dariku selain itu”.
Asy Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama senior pada zamannya. Az Zuhri berkata; “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahbil di Kufah, Hasan al-Bashri di Bashrah, dan Makhul di Syam”.
Hanya karena sifat tawadhu, beliau tidak suka jika ada yang menyebutnya sebagai alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata; “Jawablah wahai faqih, wahai alim!”.
Ia berkata; “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manalah aku termasuk ke dalamnya?”.
Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, ia menjawab; “Umar bin Khathab berpendapat begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini..”. Maka penanya berkata; “Lalu bagaimana pendapat Anda, wahai Abu Amru?”.









