
Protes ini adalah yang terburuk sejak kekacauan tahun 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun yang dituduh mengenakan hijab tidak pantas, saat berada dalam tahanan polisi.
Peristiwa itu memicu kerusuhan kekerasan selama berminggu-minggu, mengakibatkan lebih dari 200 kematian di seluruh negeri dan ribuan penangkapan.
Video yang beredar daring menunjukkan massa telah menyerang gedung-gedung pemerintah dan fasilitas yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Korban jiwa juga dilaporkan di antara para demonstran dan pasukan keamanan.
Presiden AS memperingatkan Washington dapat campur tangan jika Iran “menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal.”
“Agen intelijen asing telah berupaya mengubah protes yang sah menjadi pertempuran perkotaan yang penuh kekerasan,” kata pejabat Iran itu.








