
Badan Energi Internasional (IEA) pada Maret lalu mengumumkan pelepasan 400 juta barel dari cadangan minyak darurat untuk membantu menjaga pasokan global. Sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut telah dikeluarkan.
Sementara data perusahaan yang memantau pengiriman minyak, Vortexa, memperkirakan sekitar 10 juta bph atau sekitar 10 persen dari permintaan minyak dunia masih hilang akibat konflik Iran.
Sejumlah negara seperti AS, Kanada, dan Guyana juga telah meningkatkan produksi minyak. Namun, IEA memperkirakan pasokan minyak global tetap akan turun sekitar 4,3 juta barel per hari (bph) tahun ini atau sekitar 4 persen.
Jeffrey Currie, Co-Chairman Abaxx Markets, menilai kenaikan harga minyak saat ini bukan sekadar gejolak sementara.
“Menurut saya, pasar mencoba menganggap kenaikan harga energi ini sebagai kejadian sesaat. Padahal bukan. Ini bersifat struktural. Kondisi ini tidak akan hilang dan merupakan bagian dari apa yang saya sebut sebagai premi keamanan. Dan nilainya akan terus meningkat,” ujar Jeffrey.(kumparan.com)








