
Menurut sejarawan tekstil Susan Meller, motif Chevron “merupakan turunan dari tenunan tulang ikan (herringbone), di mana deretan garis diagonal pendek bertemu membentuk huruf V, tidak berbeda dengan kerangka ikan.
Beberapa motif tulang ikan meniru tenunan tulang ikan, lengkap dengan garis-garis tidak rata yang menyiratkan kekasaran benang wol; yang lain dengan tegas menyatakan kemandiriannya dari leluhurnya, misalnya dengan menempatkan garis diagonal tidak sejajar, memecah bentuk V. Variasi-variasi ini menciptakan sesuatu yang baru dan unik serta memungkinkan kemungkinan desain yang tak terbatas.
Kata chevron berasal dari bahasa Prancis dan maknanya diturunkan dari kata Latin caprio, atau balok atap, karena kemiripannya dengan balok atap bangunan. Desain chevron sering digunakan pada lencana atau lambang yang digunakan oleh militer atau penegak hukum untuk menunjukkan pangkat atau lama masa bakti.
Motif ini juga sering terlihat pada bendera. Meskipun chevron memberikan kesan yang sangat modern dan kontemporer, motif ini dapat ditelusuri akarnya kembali ke Yunani kuno. Benda-benda tembikar yang berasal dari sekitar tahun 1800 SM telah dihiasi dengan pola ini.
Pada tahun 1953, Tai dan Rosita Missoni mempopulerkan motif chevron yang khas dan menjadikannya ciri khas mereka selamanya.








