Air Yang Kurang Dari Dua Qullah, Bagaimanakah Statusnya?

MOESLIM.ID | Kadar air yang kurang dari dua qullah adalah masalah yang masih yang diperselisihkan oleh para ulama. Pendapat yang paling kuat Wallahu a’lam adalah bahwa air apabila terkena najis dan tidak berubah warna, rasa dan baunya maka tidak menjadi najis.

Ini adalah pendapat Abu Hurairah dan Ibnu Abbas dan riwayat dari imam malik dan imam ahmad serta madzhab ahlul hadits.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا كَانَ اَلْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ اَلْخَبَثَ

Baca Juga:  Syarat-Syarat Wajib Mengeluarkan Zakat Mal (Harta)

Jika banyaknya air telah mencapai dua qullah (kulah) maka ia tidak mungkin mengandung najis.” (HR. Abu Daud, no. 63; Tirmidzi, no. 67; An-Nasai, 1:75:46; Ibnu Majah, no. 517)

Adapun hadits yang disebutkan diatas, maka kita jawab dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam menggantungkan hukum dalam hadits tersebut kepada “membawa najis”. Berarti apabila air tersebut selama tidak membawa najis tetap di atas kesuciannya.

Kedua: beralasan dengan jumlah dua kullah dalam hadits tersebut masih diperselisihkan oleh para ulama ushul fiqih, apakah mafhum jumlah itu bisa dijadikan hujjah atau tidak.

Baca Juga:  Mahar Nikah Hasil Utang, Bagaimana Hukumnya?

Ketiga: pendapat yang mengatakan bahwa dibawah dua kullah berarti air akan membawa najis. Ini namanya mafhum mukholafah (memahami kebalikannya). Dan mafhum mukholafah tidak mempunyai makna umum. Terlebih bila mafhum bertabrakan dengan mantuq maka mantuq lebih dikedepankan dari mafhum. Dan mafhum tersebut bertabrakan dengan mantuq hadits: “air itu thahur tidak dinajiskan oleh apapun” (HR Abu Dawud).

Keempat: hadits tentang dua qullah itu nabi ucapkan karena sebab menjawab pertanyaan. Ada orang bertanya bagaimana hukum air yang berada di padang pasir dan menjadi tempat minum binatang buas. Maka beliau bersabda: “apabila air mencapai dua qullah…dst“. Sehingga ucapan Nabi ini tidak bisa dijadikan pengkhususan. Karena para ulama bersepakat bahwa apabila pengkhususan itu bukan karena sebab pengkhususan hukum maka bukan hujjah.

Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam.(dzn)

Baca Juga:  Hal-Hal yang Membatalkan Puasa, Jima Paling Berat Resikonya

Referensi Lainnya, klik: https://www.jabarnews.com