
Pendapat Pertama. Ulama syafiiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh seorang wanita melihat aurat lelaki dan bagian lainnya tanpa ada sebab. Dalil mereka adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman; ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya’. (QS. An Nur/: 31)
Dan hadist Ummu Salamah Radhiyallahu anha, ia berkata;
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : احْتَجِبَا مِنْهُ ! فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ
“Aku berada di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika Maimunah sedang bersamanya. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu anhu yaitu ketika perintah hijab telah turun. Maka Rasulullah bersabda; ‘Berhijablah kalian berdua darinya’. Kami bertanya; ‘Wahai Rasulullah, bukankah ia buta sehingga tidak bisa melihat dan mengetahui kami?’. Rasulullah balik bertanya; ‘Apakah kalian berdua buta?’ Bukankah kalian berdua dapat melihat dia?’.” [HR. Abu Dawud, no. 4112; Tirmidzi, no. 2778)
Dan mereka juga berdalil dengan qiyas: yaitu sebagaimana di haramkan para lelaki melihat wanita seperti itu pula di haramkan para wanita melihat lelaki.








