Empat Keistimewaan dan Keutamaan Hari Arafah 9 Dzulhijjah

Jemaah haji sedang wukuf di Arafah. (Foto. Net)

MOESLIM.ID | Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah setiap tahun adalah salah satu hari yang paling utama sepanjang tahun dalam syariat Islam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya  lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada hari-hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah ? Nabi Shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR. Bukhari: 969 dan At Tirmidzi: 757)

Baca Juga:  Bolehkah Wanita yang Sedang Haid Ikut Ta’ziyah?

Maksudnya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan rangkaian hari paling utama sepanjang tahun. Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memperbanyak amal saleh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan hari Arafah termasuk di dalamnya.

Berikut ini keistimewaan dan keutamaan hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah;

  1. Di Hari Ini Allah Paling Banyak Membebaskan Manusia Dari Neraka

Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Baca Juga:  Untuk Lelaki yang Ingin Poligami, Ini Dia Syaratnya

“Tidak ada hari di mana Allah Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?”. (HR. Muslim no. 1348)

Maksudnya, tidak ada yang mendorong mereka untuk meninggalkan negeri, keluarga dan kenikmatan mereka (untuk menunaikan ibadah haji) kecuali ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan pencarian ridhanya.