Harun Al Rasyid, Pemimpin Yang Mencintai Sunnah dan Ulama

MOESLIM.ID | Harun Al Rasyid adalah seorang raja yang dikenal memuliakan ulama. Ia begitu mengagungkan agamanya. Tidak suka perdebatan dan banyak bicara. Dan ia sangat mencintai sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dalam beberapa risalahnya, Al Qadhi Iyadh, memiliki kesan yang mendalam pada figur Harun Al Rasyid. Beliau mengatakan, “Tidak kuketahui seorang raja pun yang bersafar menempuh perjalanan belajar kecuali Al Rasyid. Ia berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian Al Muwaththa yang disampaikan oleh Imam malik rahimahullah.”

Saat akhir hayat sang khalifah, Abdullah bin Al Mubarak bersedih. Ia duduk penuh duka. Sampai orang-orang pun menghiburnya. Abdullah bin Al Mubarak adalah seorang ulama tabi’ tabi’in. Seorang yang shaleh dan wara’. Orang seperti beliau bersedih dan menangis ketika Harun Al Rasyid hendak wafat.

Abu Muawiyah Ad Dharir mengatakan, “Tidaklah aku menyebut Nabi shallallahu alaihi wasallam di hadapan Al Rasyid kecuali beliau mengucapkan, ‘Shalawat untuk junjunganku’. Kemudian aku riwayatkan sebuah hadits kepadanya. (Rasulullah bersabda) ‘Sungguh aku ingin berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi’. (mendengar hadits itu) Harun Al Rasyid menangis tersedu-sedu.”

Hadits ini selengkapnya adalah sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَدِدْتُ أَنِّي أُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَأُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berandai, berperang di jalan Allah. Kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh kembali.” (HR. Bukhari dalam Kitab At Tamanni, 6713)