
Setelah membaca surat tersebut, Salim bin Abdillah mengirim surat balasan; “Telah sampai kepadaku surat Anda yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji Anda dengan kewajiban mengurus kaum muslimin tanpa Anda minta dan tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan Anda. Dan Anda menginginkan jalan yang telah dilalui Umar bin Khaththab. Yang perlu Anda perhatikan dan ingat selalu adalah bahwa Anda tidak hidup pada zaman Umar bin Khaththab dan tidak didampingi orang-orang seperti mendampingi Umar bin Khaththab. Tetapi ketahuilah, bila Anda mempunyai niat untuk berbuat baik dan benar-benar menginginkannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu Anda bersama para pejabat yang mendampingi Anda. Hal itu akan datang di luar perhitungan Anda, sebab pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya didasarkan pada niatnya. Bila berkurang niatnya pada kebaikan, maka akan berkurang pula pertolongan-Nya. Apabila nafsu Anda mengajak kepada sesuatu yang tak diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ingatlah apa yang dialami oleh para penguasa sebelum Anda.
Maka perhatikanlah betapa rusaknya mata mereka karena hanya digunakan untuk melihat kenikmatan, perut mereka pecah karena terlalu kenyang dengan syahwat. Bayangkanlah seandainya jenazah mereka diletakkan di samping rumah dan tidak dimasukkan ke liang lahat. Tentulah kita akan sengsara karena baunya dan terkena penyakit karena busuknya. Wassalamu’alaika warahmatullahi wabarakatuh”.
Kehidupan Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab penuh dengan taqwa, akrab dengan hidayah, menjauhi kesenangan dunai dan godaannya, memperlakukannya sesuai dengan jalan yang diridhai Allah.
Ia makan makanan keras dan mengenakan pakaian dari bahan yang kasar, bergabung dengan pasukan muslimin untuk menghadapi Romawi, dan selalu berusaha membantu menyelesaikan masalah kaum muslimin.








