Moeslim.id | Kekecewaan para ulama itu dimanfaatkan oleh Abdurrahman. Dia mendekati para alim ulama untuk mendukung perjuangannya. Kemudian beberapa tokoh tabi’in dan pemuka-pemuka Islam turun tangan, di antara termasuk Sa’id bin Jubair, Abdurrahman bin Laila, Imam Asy Sya’bi, Abul Bukhtari dan lain-lain.
Perang besar antara kedua belah pihak meletus. Mula kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy-ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih. Pasukan Hajjaj berada di atas angin, sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy’ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy’at melarikan diri dan pasukannya menyerah kepada Hajjaj.
Setelah itu, Hajjaj memerintahkan pegawainya untuk menyeru kepada para pemberontak agar memperbaharui baiatnya. Di antara mereka ada yang menaati dan sebagian kecil menghilang, termasuk Sa’id bin Jubair.
Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbaiat, namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tidak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka; “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan baiatmu kepada amirmu?”. Jika dia menjawab; “Ya”, maka diterima baiatnya yang baru lalu dibebaskan. Namun jika menjawab; “Tidak”, maka dibunuh.
Sebagian dari mereka yang lemah, tunduk dan terpaksa mengaku kafir demi keselamatan dirinya. Sedangkan sebagian lagi tetap teguh dan tidak meingdahkan perintah tersebut, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.









