
Ia juga meyakini bahwa kalimat yang utama untuk disampaikan adalah kalimat yang benar untuk meluruskan para penguasa yang menyimpang dan menjauhkan mereka dari kezaliman dan kekejaman, sekaligus mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesampainya di depan Amirul Mu’minin, beliau memberi salam dan disambut dengan sangat ramah. Selanjutnya khalifah membimbing ia menuju majelisnya, lalu bertanya tentang persoalan manasik haji. Beliau mendengarkan dengan tekun dan penuh hormat.
Ketika beliau merasa bahwa Amirul M’minin sudah mendapatkan keterangan yang diperlukan dan tak ada lagi yang dipertanyakan, Thawus berkata dalam hati; “Ini adalah majelis yang kelak engkau akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, wahai Thawus”.
Thawus, menoleh kepada khalifah dan berkata; “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya ada suatu batu besar di tepi sumur jahannam. Batu itu dilemparkan ke dasar jahannam dan baru mencapai dasarnya setelah 70 tahun. Tahukah Anda untuk siapakah sumur itu disediakan, wahai Amirul Mukminin?”.
Khalifah berkata; “Tidak, duhai celaka, untuk siapa itu?”. Thawus bin Kaisan menjawab; “Untuk orang-orang yang Allah sebagai penegak hukum-Nya namun dia menyelewengkannya”.








