Moeslim.id | Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat.
Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.
Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya.
Suatu hari, aku berkata kepada bibiku Aisyah; “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya”.
Tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Ia memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid.









