Thawus Bin Kaisan, Tabi’in dan Penasihat yang Terpercaya (3)

Ilustrasi seseorang di gurun pasir. (Foto: Net)

Aku berkata; “Bila Anda putranya, maka tentulah syaikh itu sudah tua renta dan mungkin sudah pikun. Padahal saya datang dari tempat yang jauh untuk menimba ilmu dari beliau”. Putra Thawus berkata; “Jangan bodoh, orang yang mengajarkan Kitabullah tidaklah pikun. Silakan masuk!”.

Akupun masuk, memberi salam lalu berkata; “Saya datang kepada Anda karena ingin menimba ilmu dan mendengarkan nasihat Anda. Jelaskan secara singkat”. Thawus berkata; “Akan aku ringkas sedapat mungkin, InsyaAllah. Apakah engkau ingin aku menceritkan tentang inti isi Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran?”.

Baca Juga:  Wanita Petarung MMA Amber Leibrock Memeluk Islam

Aku berkata; “Benar”. Ia berkata; “Takutlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rasa takut yang tiada bandingnya. Mohonlah kepada-Nya suatu permohonan yang lebih besar daripada rasa takutmu kepada-Nya. Dan senangkanlah orang lain sebagaimana engkau menyenangkan dirimu sendiri”.

Malam 10 Dzulhijah 106 H, wafatlah seorang syaikh lanjut usia, yaitu Thawus bin Kaisan ketika tengah menunaikan haji, dari Arafah menuju Muzdalifah, pada perjalanannya yang keempat puluh kalinya.

Ketika itu, beliau menaruh perbekalannya, kemudian melakukan shalat maghrib dan Isya. Setelah itu beliau merebahkan tubuhnya di atas tanah untuk beristirahat. Pada saat itulah ajal menjemputnya.