Kedudukan Wanita (4): Sebagai Saudari dan Sesama Muslimah

MOESLIM.ID | Islam juga menyeru umatnya agar memuliakan wanita dalam statusnya sebagai saudara perempuan dan bibi. Pemuliaan ini diwujudkan dengan menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada mereka, memahami dan mengetahui hak-hak mereka. Orang yang melakukan ini, akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Azza wa Jalla.

Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan Ibnu Majah dari al-Mikdam bin Ma’di Karib Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ

“Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada kalian ibu-ibu kalian, kemudian ibu-ibu kalian, kemudian Allâh mewasiatkan kepada kalian bapak-bapak kalian, kemudian keluarga yang paling dekat dengan kalian dan baru keluarga yang dekat”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 60 dan Ibnu Majah, no. 3661)

Diriwayatkan dari imam Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Tidaklah seseorang memiliki tiga anak wanita atau tiga saudara perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, kecuali dia akan masuk Surga”. (HR. At Thirmizi, no. 1912 dan Abu Daud, no. 5147)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya, diperbanyak anaknya, maka hendaknya dia menyambung tali silaturahminya”. (Shahih Bukhari, no. 5986 dan Muslim, no. 2557)

Perhatian Islam terhadap wanita, tidak hanya ketika dia memiliki hubungan kekeluargaan, tapi juga terhadap sesama wanita muslimah lainya yang tidak memiliki kekerabatan dengannya.

Islam menganjurkan agar umatnya memperhatikan mereka, berbuat baik dan memberikan pertolongan jika dia butuh bantuan. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ كَالْقَائِمِ الَّذِي لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ الَّذِي لاَ يُفْطِرُ

“Orang yang membantu janda dan orang miskin seperti seorang mujahid fisabilillah, atau seperti orang yang selalu shalat malam dan tidak pernah malas, atau seperti orang yang terus berpuasa tanpa henti”. (Shahih Bukhari , no. 6007 dan Muslim, no. 2982)

Ini sedikit gambaran dari penghormatan yang diraih kaum wanita dalam syair’at Islam. Penghormatan dan penghargaan seperti ini tidak mungkin diraih oleh seorang wanita pada selain agama Islam, sebuah agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk para hamba-Nya.(almanhaj.or.id)