Makna Bulan Sya’ban dan Ibadah yang Disyariatkan (2)

Tata cara puasa sunnah. (Foto: Net)

Moeslim.id | Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah Ta’ala. Hal ini berdasarkan hadits dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, ia mengatakan; “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban”.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab,

ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ.

Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa“. (HR. An Nasa’i: IV/201, Ahmad: V/201)

Baca Juga:  Bolehkah Wanita Menunaikan Haji Tanpa Mahrom?

Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sangat membantu badan dan hati untuk lebih siap menyambut bulan Ramadhan dalam menjalani ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lathaiful Ma’arif, hlm. 258)

Sementara itu, ada larangan berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda;

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُوْمُوْا.

Jika memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa“. (HR. Abu Dawud no. 2337, At Tirmidzi no. 738)

Baca Juga:  Bolehkah Bertransaksi Jual Beli di Dalam Masjid?

Larangan dalam hadits ini berkaitan dengan orang yang baru mulai puasa dari pertengahan Sya’ban atau bagi orang yang kalau dia puasa dia akan lemah.