
Reuters melaporkan harga minyak naik sekitar 5% pada 5 Maret 2026, sementara dalam skenario yang lebih berat harga bisa menyentuh US$100 per barel. Kondisi seperti ini bisa mendorong penggunaan energi fosil bertahan lebih lama dan menunda investasi hijau.
Padahal, IRENA melaporkan kapasitas energi terbarukan global sudah mencapai 4.448 GW pada 2024 setelah bertambah 585 GW dalam setahun, tetapi laju ini masih belum cukup untuk memenuhi target global 2030.
Konflik juga berdampak langsung pada lingkungan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa konflik merusak ekosistem, menguras sumber daya alam, mencemari lingkungan, dan membahayakan kesehatan planet untuk generasi mendatang.
Dalam konteks ini, perang bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga beban tambahan bagi bumi yang sudah menghadapi tekanan perubahan iklim.
Di Indonesia, sejumlah sumber dalam negeri juga menyoroti bahwa gejolak energi akibat konflik dapat menjadi pengingat bahwa ketergantungan tinggi pada minyak dan gas membuat sistem energi makin rentan.








