
ANTARA yang mengutip CELIOS menilai situasi ini bisa menjadi momentum untuk mempercepat energi baru terbarukan, sementara Periskop dan UNIDA Gontor menekankan bahwa gangguan pasokan minyak dapat memicu inflasi, tekanan ekonomi, dan kebutuhan akan reformasi energi yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, konflik Iran-AS seharusnya dibaca bukan hanya sebagai isu perang, tetapi juga sebagai peringatan iklim.
Selama dunia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, setiap konflik di kawasan strategis akan berisiko menaikkan emisi, menunda transisi energi bersih, dan memperbesar kerusakan lingkungan.
Sebaliknya, semakin cepat energi terbarukan diperkuat, semakin kecil pula dampak krisis geopolitik terhadap iklim dan kehidupan masyarakat.
Dengan kata lain, energi terbarukan bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi untuk membangun sistem energi yang lebih aman, stabil, dan tahan terhadap guncangan global.(*)








