Memakai Penutup Kepala Ketika Shalat Sangat Dianjurkan

MOESLIM.ID | Shalat merupakan salah satu kewajiban yang kita jalankan setiap harinya terutama dalam menjalankan shalat lima waktu dimana hukumnya wajib bagi setiap umat muslim.

Shalat sendiri merupakan rukun Islam yan kedua yang sangat ditekankan atau menjadi ibadah yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Shalat juga merupakan tiang atau pondasi agama jadi shalat sangat penting bagi seorang muslim.

Memakai penutup kepala pada asalnya adalah kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, para ulama dan orang-orang shalih, baik di luar atau di dalam shalat. Beberapa riwayat menunjukkan hal ini, diantaranya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ، فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ ، وَعَلَى الْعِمَامَةِ ، وَعَلَى الْخُفَّيْنِ

Nabi Shallallahu alaihi wasallam berwudhu, beliau mengusap ubun-ubunnya, mengusap imamahnya, dan mengusap khufnya”. (HR. Bukhari 182, Muslim 274)

أنه كان يُصلِّي في العِمامة

Baca Juga:  Hukum Membuat Tindik Telinga Bagi Kaum Pria

Nabi Shallallahu alaihi wasallam biasanya shalat dengan memakai imamah”. (HR. Bukhari 205, Muslim 1359)

Namun anjuran memakai penutup kepala ketika shalat ini melihat pada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Jika masyarakat setempat biasa menggunakan penutup kepala, maka lebih afdhal menggunakan penutup kepala.

Namun jika masyarakat setempat tidak biasa menggunakan penutup kepala, maka ketika itu tidak dikatakan lebih afdhal. Karena dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan زِينَتَكُمْ (perhiasan kalian), maka yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dianggap sebagai perhiasan dan keindahan oleh orang-orang.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

إذا طبَّقنا هذه المسألة على قوله تعالى:)يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ )(لأعراف: من الآية31) تبيَّن لنا أن ستر الرأس أفضل في قوم يعتبر ستر الرأس عندهم من أخذ الزِّينة، أما إذا كُنَّا في قوم لا يُعتبر ذلك من أخذ الزينة، فإنَّا لا نقول: إنَّ ستره أفضل، ولا إنَّ كشفه أفضل

Baca Juga:  Memilih Sweater yang Cocok Untuk Setelan Hijab

“Jika kita terapkan hal ini pada firman Allah Ta’ala (yang artinya):“Wahai manusia, gunakanlah perhiasanmu ketika memasuki setiap masjid” (QS. Al A’raf: 31). Akan jelas bagi kita bahwa menutup kepala itu lebih afdhal bagi masyarakat yang menganggap penutup kepala itu sebagai penghias penampilan. Namun jika kita berada di suatu masyarakat yang tidak menganggap demikian maka tidak kita katakan bahwa memakai penutup kepala itu afdhal, dan juga tidak dikatakan bahwa tidak memakainya itu afdhal”. (Syarhul Mumthi’, 2/137)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ketika ditanya tentang hukum shalat tanpa memakai penutup kepala, beliau menjawab: “Tidak mengapa, karena kepala tidak termasuk aurat. Yang wajib ketika shalat adalah mengenakan kain yang menutupi pusar ke bawah dan kain yang menutupi pundak hingga pusar.

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

لا يصلي أحدكم في الثوب الواحد ليس على عاتقه منه شيء

Baca Juga:  Mencukur Kumis Bagi Kaum Lelaki Apakah Berpahala?

Janganlah kalian shalat dengan satu kain saja sehingga pundak kalian tidak tertutup

Namun jika seseorang memperbagus pakaiannya (dengan penutup kepala) itu lebih afdhal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai manusia, gunakanlah perhiasanmu ketika memasuki setiap masjid” (QS. Al A’raf: 31)

Adapun jika seseorang berada di suatu daerah yang di sana tidak biasa memakai penutup kepada, maka tidak mengapa shalat tanpa penutup kepala”. (http://www.binbaz.org.sa/mat/2472)

Demikian juga jenis penutup kepala yang dipakai, apakah peci songkok, atau ghutrah, atau imamah, atau peci bundar, atau surban, ini kembali kepada urf (kebiasaan) masyarakat setempat. Jika orang-orang shalih di masyarakat setempat biasa menggunakan songkok, maka itulah yang sebaiknya digunakan.(dzn)

Referensi Lainnya, klik: https://www.jabarnews.com