Aqiqah Untuk Bayi Hari Ke Berapa? Bagaimana Jika Telat?

Aqiqah untuk bayi. (Foto: Net)

MOESLIM.ID | Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah kapan atau hari ke berapa pelaksanaan aqiqah untuk bayi atau anak yang baru lahir.

Sembelihan aqiqah dihukumi sah jika dilaksanakan setelah kelahiran bayi, karena saat itu penyebab disyariatkannya aqiqah sudah ada yaitu kelahiran bayi. Inilah pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah (Fathul Bari: 9/594).

Adapun mengenai penyebutan hari ke-tujuh dalam hadits, maka itu hanya menunjukkan sunnahnya menyembelih aqiqah dilakukan pada hari ke-tujuh. Sehingga seandainya disembelih sebelum hari ke-tujuh atau setelahnya maka aqaqahnya tetap sah.

Baca Juga:  Hukum dan Tata Cara Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)

Para Ulama Fikih sepakat bahwa aqiqah disunnahkan pelaksanaannya pada hari ke-tujuh, hal itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama”. (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasa’i no. 4220, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad: 5/12)

Syaikh Shidiq Hasan Khon rahimahullah berkata, “Sudah semestinya ada selang waktu antara kelahiran dan waktu aqiqah. Pada awal kelahiran tentu saja keluarga disibukkan untuk merawat si ibu dan bayi. Sehingga ketika itu, janganlah mereka dibebani lagi dengan kesibukan yang lain. Dan tentu ketika itu mencari kambing juga butuh usaha.Seandainya aqiqah disyariatkan di hari pertama kelahiran sungguh ini sangat menyulitkan. Hari ketujuh lah hari yang cukup lapang untuk pelaksanaan aqiqah.” (Raudhatun Nadiyah Syarh Ad Duraril Bahiyah, hlm. 349)