Hukum Tidak Mengaqiqahi Anak Karena Tidak Mampu

Ilustrasi bayi yang baru lahir. (debbiedaanen.com)

MOESLIM.ID | Aqiqah itu sunah muakkadah (amalan sunnah yang sangat ditekankan) bagi orang yang mampu untuk melakukannya, yaitu penyembelihan dua ekor kambing jika bayinya laki dan satu ekor kambing jika bayinya perempuan.

Paling bagus, hewan-hewan itu disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahiran bayi yang diaqiqahi. Misalnya, lahir pada hari Selasa, maka diaqiqahi pada pada senin berikutnya; Jika hari Jum’at, maka hari Kamis diaqiqahi dan begitu seterusnya.

Jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka pada hari ke-14. Jika pada hari ke-14 juga belum bisa, maka dilaksanakan pada hari ke-21. Jika pada hari itu juga belum bisa, maka kapan saja bisa dilaksanakan.

Baca Juga:  Hak Waris Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah (1)

Itulah pendapat para Ulama ahli fikih. Jika orang tua tidak memliki kemampuan untuk melakukannya pada hari itu, maka keharusan melaksanakan aqiqah itu menjadi gugur. Karena aqiqah disyari’atkan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan.

Adapun orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, maka dia tidak dibebani untuk melakukannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allâh menurut kesanggupanmu”. (QS. At Taghabun: 16)