Keutamaan dan Pahala 10 Hari Pertama Bulan Muharram

MOESLIM.ID | Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat 10 hari yang diagungkan, yaitu 10 hari awal bulan Zulhijah dan 10 hari terakhir bulan Ramadan. Hal ini telah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin karena memang ada dalil khusus terkait hal ini.

Semisal tafsir ulama dalam surat Al-Fajr, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi fajar. Dan (demi) hari yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2)

Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hari “yang sepuluh” di sini adalah 10 awal Zulhijah atau 10 akhir Ramadhan.

Terkait dengan memuliakan 10 hari awal bulan Muharam dengan amal salih, terdapat atsar dari para ulama kita rahimahumullah.

Demikian juga dijelaskan oleh Al Mawardi rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,

أفضل المحرم اليوم العاشر وهو يوم عاشوراء ثم التاسع وهو تاسوعاء ثم العشر الأول.

Yang paling mulia dari bulan Muharam adalah hari ke-10, yaitu hari Asyura, kemudian hari ke-9 yaitu hari Tasua, kemudian sepuluh awal Muharam.” (Al Inshaf, 3: 346)

Terkait hal ini, beberapa ulama berpendapat bahwa memuliakan khusus 10 awal Muharam saja tidak sepenuhnya benar, karena hadis menyebutkan keutamaan bulam Muharam secara umum dan tidak ada hadis khusus yang menjelaskan keutamaan 10 awal Muharam.

Dalam Fatawa Asy Syabakiyah asuhan Syekh Abdullah Al Faqih dijelaskan,

ولم يرد حديث صحيح فيما نعلم في فضل صيام العشر الأول من محرم بمجموعها.

Tidak terdapat hadis sahih menurut pengetahuan kami yang menjelaskan keutamaan 10 awal bulan Muharam sama sekali.” (Fatwa no. 43810)

Demikian juga Profesor Syekh Khalid Al Muslih hafidzahullah, beliau menjelaskan (dengan ringkasan),

“Keutamaan  bukan hanya pada 10 awal Muharram saja, akan tetapi seluruh hari di bulan Muharram. Allah Ta’ala menyandarkan bulan ini kepada-Nya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم

Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharam.” (HR. Muslim)

Beberapa ulama menafsirkan surat Al Fajr pada ayat “hari yang sepuluh” dengan tafsir bahwa yang dimaksud adalah 10 awal bulan Muharam. Akan tetapi, tafsir ini kurang tepat. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan (dengan ringkasan),

وأفضل شهر الله المحرم عشره الأول، وقد زعم يمان بن رآب: أنه العشر الذي أقسم الله به في كتابه، ولكن الصحيح أن العشر المقسم به عشر ذي الحجة.

Yang paling mulia dari bulan Allah yaitu bulan Muharam adalah 10 awalnya. Yaman bin Ra’ab menyangka bahwa 10 hari yang Allah gunakan bersumpah dalam kitab-Nya adalah 10 awal Muharam. Akan tetapi, yang benar bahwa yang dimaksud adalah 10 awal Zulhijah.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 39-40)

Keutamaan hari dari bulan Muharam yang ada dalilnya yaitu hari ke-9 dan hari ke-10, ketika kita disunnahkan dan lebih ditekankan untuk berpuasa. Sebagaimana dalil-dalil berikut ini,

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا

“Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka mengatakan, “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi). Karena, itu berpuasalah.” (HR. Bukhari)

Dan hadits lainnya,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin.” (HR. Muslim)

Demikian juga penekanan puasa pada hari ke-9 Muharam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jika tahun depan insyaallah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharam), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“ Akan tetapi, sebelum Muharam tahun depan tiba, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut.” (HR. Muslim no. 1134)

Terdapat beberapa atsar dari salaf tentang memuliakan 10 awal bulan Muharam dengan memperbanyak amal salih. Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil khusus memuliakan 10 awal Muharam karena dalilnya bersifat umum. Sehingga kita memuliakan seluruh hari bulan Muharram secara umum.

Terdapat juga dalil penekanan untuk memuliakan hari ke-9 dan ke-10 dengan puasa. Demikian, semoga bermanfaat.(muslim.or.id)

Referensi Lainnya, klik: https://www.jabarnews.com