
“Ada yang kuat berlari, ada yang perlu berjalan. Itu adalah bentuk humanisme. Para fasilitator dari unsur TNI dan Polri sangat memahami kondisi peserta. Ini sekaligus membantah stigma bahwa pelatihan semi-militer tidak humanis,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga memberikan apresiasi kepada 26 peserta yang mampu menyelesaikan lari sejauh tujuh kilometer tanpa henti bersama dirinya. Ia menyebut akan memberikan penghargaan khusus sebagai bentuk motivasi dan keteladanan bagi peserta lainnya.
Lebih lanjut, Dahnil menekankan pentingnya membangun habitus atau kebiasaan positif yang berkelanjutan, terutama dalam menjaga kesehatan fisik dan kedisiplinan kerja.
“Perubahan besar dalam penyelenggaraan haji harus dimulai dari perubahan pribadi para petugasnya. Olahraga, disiplin waktu, dan kesiapan fisik harus menjadi kebiasaan, bukan hanya selama diklat,” ujarnya.
Ia berharap hingga pekan kedua dan ketiga pelatihan, seluruh peserta mengalami perubahan sikap dan perilaku yang signifikan sehingga siap mengemban amanah pelayanan jamaah haji secara optimal di Tanah Suci.








