
Di balik kondisi fisiknya yang prima, perjalanan hidup Jumaria ternyata tidak mudah. Ia hidup seorang diri tanpa suami dan anak di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan.
Sehari-hari, Jumaria bekerja sebagai petani sawah dan buruh kebun demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menabung untuk berhaji. Sedikit demi sedikit hasil panen dan upah kerja ia sisihkan selama hampir 20 tahun.
“Kalau sudah panen padi, aku jual, baru kusimpan,” tutur Jumaria.
Tak hanya hasil sawah, upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain juga ia tabung dengan disiplin. “Kadang 500, kadang 700. Ada lagi punya kebun yang kukerja, dia kasih 200, saya simpan,” katanya.
Karena tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang, Jumaria menaruh tabungannya di berbagai tempat sederhana di rumahnya, mulai dari bawah kasur hingga ember yang ditutup kain bekas agar tidak diketahui orang lain.








