
Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Dalam kondisi hidup serba sederhana, Jumaria memilih mempertahankan uang hajinya tetap utuh meski harus makan seadanya.
“Kalau tidak ada lauk, saya masak daun ubi saja,” ujarnya. Sesekali, ia memasak telur dari ayam peliharaannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi Jumaria, hidup sederhana bukanlah masalah selama impiannya menuju Tanah Suci tetap terjaga. Kini, seluruh perjuangan panjang itu akhirnya terbayar.
Di Tanah Suci, Jumaria hanya bisa bersyukur karena cita-cita yang ia rawat selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
“Aku berdoa supaya panjang umur saja, semoga dikasih ke sini lagi,” ucapnya penuh haru.(*)








