Maqam Ibrahim, Jejak Kaki Nabi Ibrahim Saat Membangun Ka’bah

MOESLIM.ID | Maqam Ibrahim (bahasa Arab: مقام إبراهيم‎) adalah batu tempat nabi Ibrahim berpijak saat membangun Ka’bah. Awalnya batu tersebut menempel di dinding Ka’bah, tetapi kemudian dijauhkan dari dinding Ka’bah beberapa meter pada masa Umar bin Khattab. Pada masa setelahnya, batu tersebut ditutupi perak dan dikurung dalam struktur seperti sangkar.

Dari sudut bahasa, “Al maqam” berarti “tempat pijakan”. Maka maqam nabi Ibrahim merupakan sebuah bangunan dengan batu kecil yang dibawa oleh nabi Isma’il ketika membangunkan Ka’bah, digunakan sebagai pijakan nabi Ibrahim untuk berdiri guna melengkapi bongkahan-bongkahan batu untuk membangun Ka’bah.

Apabila nabi Ismail memberikan bongkahan-bongkahan batu kepada nabi Ibrahim, Ibrahim akan menyusunnya pada Ka’bah sehingga bangunan Ka’bah pun semakin tinggi, dan batu pijakan nabi Ibrahim ini juga ikut meninggi.

Maqam Ibrahim merupakan bangunan (struktur) yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebuh 20 hasta di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan kecil ini terdapat sebuah batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersamaan dengan dengan batu-batu kecil lainnya yang terdapat di Hajar Aswad. Batu ini menjadi tempat berdiri nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah bersama nabi Isma’il.

Baca Juga:  Pengawalan Raperda Standarisasi Biaya Lokal Ibadah Haji

Batu maqam Ibrahim dipelihara oleh Allah, saat ini sudah ditutupi dengan perak, sedangkan bekas kedua tapak kaki Ibrahim memiliki spesifikasi panjang 27 cm, lebar 14 cm, dan berkedalaman 10 cm, serta masih tampak jelas dan dapat dilihat hingga sekarang. Atas perintah Khalifah Al Mahdi dari Wangsa Abbasiyah, di sekeliling batu maqam Ibrahim itu telah diikat dengan perak dan dibuat sangkar besi berbentuk sangkar burung.

Di antara keutamaan Maqam Ibrahim adalah dijadikan tempat menunaikan shalat. Hal ini juga dituliskan di dalam Al Qur’an:

Baca Juga:  Pembangunan Medan Islamic Center Jadi Peradaban Islam di Sumut

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“(ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”. (QS. Al Baqarah: 125)

Terdapat hadits shahih yang telah diriwayatkan oleh Jabir mengenai sifat Haji Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa, “Ketika sampai di Ka’bah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ia langsung mencium rukun Hajar Aswad, kemudian berlari-lari kecil tiga putaran, dan (selebihnya) yang empat putaran dengan jalan biasa (Tawaf). Lalu beliau menghadap ke Maqam Ibrahim dan membaca, ‘Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat shalat’, dan menjadikannya berada di antara dirinya dan Ka’bah”. (Sahih Muslim, Al Hajj: 1218)

Kemudian, dijelaskan juga, batu yang menjadi pijakan Ibrahim itu berasal dari surga. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua batu yang datangnya dari surga, seandainya Allah tidak menghilangkan cahaya (dari) kedunya, niscaya ia akan menerangi Timur dan Barat secara keseluruhan.

Baca Juga:  299 Jemaah Haji Kloter 10 Debarkasi Balikpapan Tiba di Tanah Air

Sementara dalam riwayat dari Imam Al Baihaqi, disebutkan seandainya bukan karena dosa dan kesalahan manusia, maka kedua batu itu mampu menerangi timur dan barat. (Al Ihsan fi Taqrib Sahih ibn Hibban: 3710, Sunan Al Kubra li Al Baihaqi: 5/75, Hadits Sahih)

Menurut Imam Hasan Al Basri dan ulama-ulama terkenal lainnya, berdoa di depan Maqam Ibrahim akan dikabulkan oleh Allah. (Risalah Al Hasan Al Basri, Dlimna Akhbar Makkah lil Fakihi, 2/291)

Maqam Ibrahim kadang dianggap sebagai tempat jenazah nabi Ibrahim disemayamkan. Nyatanya, Maqam Ibrahim adalah batu tempat nabi Ibrahim berpijak saat membangun Ka’bah. Jenazah nabi Ibrahim sendiri dikebumikan di Masjid Ibrahimi di Hebron, Palestina.(bbs)