
Para cendekiawan, ahli hukum, dan pemimpin suku memelihara jaringan pembelajaran yang menghubungkan Mauritania dengan tradisi intelektual Islam yang lebih luas. Islam juga terikat dengan struktur otoritas suku, mempengaruhi organisasi politik dan sosial.
Saat ini, Islam tetap menjadi pusat identitas Mauritania, mempengaruhi hukum, pendidikan, dan norma sosial. Sekolah-sekolah Al Qur’an (mahadhir) tersebar luas, dan banyak keluarga mengirim anak-anak mereka untuk belajar menghafal dan bahasa Arab klasik.
Meskipun kadang-kadang muncul tentang reformasi, modernitas, dan otoritas keagamaan, Mauritania tetap menjadi salah satu negara dengan homogenitas agama terbesar di dunia, dengan Islam sebagai kerangka kerja bersama yang mencakup perbedaan etnis dan sosial.(*)








