
Rombongan itu mempercepat jalannya menuju Madinah. Semua berharap agar Amirul Mu’minin puas dengan kemenangan tersebut. Mereka membawa harta untuk Baitul Maal, yakni seperlima dari hasil ghanimah. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah Hurmuzan yang selalu mengkhianati janji itu bisa dihukum khalifah setimpal dengan kejahatannya.
Setibanya di pinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Hurmuzan mengenakan pakaian kebesarannya yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata. Di kepalanya bertengger mahkota yang penuh intan berlian yang mahal harganya.
Begitu memasuki kota Yatsrib, rakyat besar dan kecil, tua atau muda, berjubel menonton tawanan berpakaian mewah itu dengan terheran-heran. Dia langsung dibawa ke rumah Umar bin Khaththab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata; “Ia pergi ke masjid untuk menyambut tamu yang datang berkunjung.”
Rombongan itu berjalan ke arah masjid, namun tak terlihat ada di dalam. Sementara itu orang makin banyak berkerumun. Saat mereka masih sibuk mencari-cari, anak-anak yang sedang bermain di situ bertanya; “Apakah kalian mondar-mandir untuk mencari Amirul Mukminin Umar?”. Mereka berkata; “Benar, di mana dia?”. Anak itu menjawab; “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.
Bersambung…








