
Ibu keduanya adalah Fathimah Az Zahra. Sedangkan ibunya wanita dari Al Hanafiyah. Kemudian nama itulah yang banyak dikenal oleh sejarah.
Muhammad Al Hanafiyyah lahir di akhir masa khalifah Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu anhu. Beliau tumbuh dan dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya, Ali bin Abi Thalib.
Dari ayahnya itu dia mewarisi ketekunan ibadahnya, sifat zuhud, keberanian dan kekuatannya di samping kefasihan lidahnya.
Siang hari, ia menjadi pahlawan di medan perang dan menjadi tokoh dalam jajaran para ulama. Di malam hari ia adalah rahib di saat mata manusia tidur terlelap.
Ayahnya telah menggemblengnya di tengah kancah peperangan yang diikutinya. Dipikulkan kepadanya beban-beban berat yang tidak pernah dipikulkan kepada kedua saduaranya, Hasan dan Husein. Dengan demikian dia tak pernah malas atau lemah semangatnya.








