Etika Ketika Mengalami Bersin dan yang Mendengarnya

MOESLIM.ID | Bersin adalah cara tubuh untuk menghilangkan iritasi dari hidung atau tenggorokan. Gejala ini juga dapat disebut sebagai proses pengusiran bakteri ke udara secara paksa dan kuat.

Bersin memiliki kecepatan sekitar 160 km/jam dan dapat mengeluarkan 100.000 bakteri dalam sekali hentakan. Hal ini sering terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Nama lain dari bersin adalah sternutasi. Meskipun gejala ini sangat mengganggu, namun bersin bukanlah gejala dari masalah kesehatan yang serius.

Salah satu fungsi hidung Anda adalah untuk membersihkan udara yang Anda hirup, dan memastikan bahwa tubuh Anda terbebas dari kotoran dan partikel bakteri.

Dalam banyak kasus, hidung menjebak kotoran dan bakteri pada lendir. Perut Anda kemudian mencerna lendir untuk menetralkan setiap penyerbu yang berpotensi membahayakan.

Terkadang, kotoran dan puing-puing dapat masuk ke dalam hidung dan mengiritasi selaput lendir yang sensitif dalam hidung dan tenggorokan. Ketika membran ini sudah tidak tahan lagi, maka terjadilah bersin.

Berikut ini adalah adab-adab (etika) dalam syariat Islam ketika mengalami bersin, baik bagi orang yang mengalami bersin tersebut maupun orang yang mendengarnya:

1. Jangan Sengaja Mengeraskan Suara Bersin

Hal tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

Baca Juga:  Sumedang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

“Bahwasanya apabila Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersin, beliau Shallallahu alaihi wasallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Ahmad: II/439, Al Hakim: IV/264, Abu Dawud: 5029, At Tirmidzi: 2746)

2. Tidak Menolehkan Leher (ke kanan atau ke kiri)

Hendaknya bagi orang yang bersin menahan diri untuk tidak menolehkan leher (menekukkan leher) ke kanan atau ke kiri ketika sedang bersin karena hal tersebut dapat membahayakannya.

Seandainya lehernya menoleh (menekuk ke kanan atau ke kiri) itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman duduk di sampingnya, hal itu tidak menjamin bahwa lehernya tidak cedera.

Telah terjadi pada beberapa orang ketika bersin memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar teman duduknya tidak terkena, namun berakibat kepalanya kaku dalam posisi menoleh.

3. Mengucapkan Alhamdulillaah Ketika Bersin

Tidak disyari’atkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk serta merta mengucapkan pujian kepada Allah (menjawabnya) ketika mendengar orang yang bersin.

Telah ada ungkapan pujian yang disyari’atkan bagi orang yang bersin sebagaimana yang tertuang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yaitu:

اَلْحَمْدُ ِللهِ

“Segala puji bagi Allah” (HR. Bukhari no. 6223, At Tirmidzi no. 2747)

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga:  Niyahah, Berlebihan Menangisi Orang Mati Adalah Termasuk Dosa Besar

“Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (HR. Bukhari di dalam Adaabul Mufrad no. 394, An Nasa’i dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 224, Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 259. Lihat Shahihul Jami, no. 686)

اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas segala hal” (HR. Ahmad: I/120,122, At Tirmidzi no. 2738, Ad Darimi: II/283, Al Hakim: IV/66)

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى

“Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh ke-berkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.” (HR. Abu Dawud no. 773, Al Hakim: III/232. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud I/147 no. 700)

4. Wajib Mengucapkan Alhamdulillaah Bagi yang Mendengarnya

Wajib bagi setiap orang yang mendengar orang bersin dan mengucapkan alhamdulillah untuk melakukan tasymit kepadanya, yaitu dengan mengucapkan,

يَرْحَمُكَ اللهُ

“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

Apabila tidak mendengarnya mengucapkan alhamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengucapkan hamdallah (ucapan alhamdulillaah).

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ: فَشَمِّتُوْهُ فِإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ

“Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, namun jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya.” (HR. Muslim no. 2992)

Baca Juga:  MUI Minta Para Dai Tidak Diam Diri di Media Sosial

5. Apabila Bersinnya Lebih Dari Tiga Kali

Apabila orang yang bersin itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan yarhamukallah.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثٍ فَهُوَ مَزْكُوْمٌ وَلاَ تُشَمِّتْ بَعْدَ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ

“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillaah) menjawabnya dengan ucapan yarhamukallah, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti ia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.” (HR. Abu Dawud no. 5035 dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 251. Lihat Shahiihul Jami no. 684)

Dan jangan mendo’akan orang yang bersin lebih dari tiga kali serta jangan pula mengucapkan kepadanya do’a:

شَفَاكَ اللهُ وَعَافَاكَ

“Semoga Allah memberikan kesembuhan dan menjagamu.”

Karena seandainya hal tersebut disyari’atkan maka tentulah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mencontohkannya.

Demikian adab-adab (etika) dalam syariat Islam ketika mengalami bersin, semoga Allah memberi kepada kita taufik dan hidayah-Nya.(bbs)