Pedagang yang Celaka, Suka Mengurangi Timbangan

MOESLIM.ID | Usaha dagang dapat didefinisikan sebagai kegiatan jual beli barang jasa dan bertujuan untuk mencari keuntungan termasuk melakukan kegiatan sebagai perantara dari kegiatan jual beli tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita agar jujur dalam melakukan transaksi jual beli, diantara perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk jujur dalam menakar dan menimbang barang dagangan, sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وأوفوا الكيل والميزان بالقسط

“Dan Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (QS. Al An’am: 152)

Dan telah kita ketahui juga bahwa mengurangi takaran atau timbangan dalam transaksi jual beli merupakan perbuatan dosa yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Baca Juga:  Dirzawa dan BPN Perkuat Percepatan Sertifikasi Tanah Wakaf

ويل للمطففين, الذين إذا اكتالوا على الناس يستوفون, وإذا كالوهم أو وزنوهم يخسرون

“Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) Orang orang-yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain) mereka menguranginya”. (QS. Al Muthaffifin: 1-3)

Jika seandainya kita pernah melakukannya, maka seharusnya kita bertaubat dari perbuatan tersebut, pertama dengan mengakui bahwa hal tersebut merupakan perbuatan dosa.

Ibnul Qoyyim rahimahullah pernah mengatakan:

لا تصح التوبة إلا بعد معرفة الذنب, والاعتراف به, وطلب التخلص من سوء عواقبه أولا وآخرا.

Baca Juga:  Inilah Yang Dilakukan Jemaah Haji Pada Hari Raya Idul Adha (1)

“Tidaklah sah taubat kecuali dengan mengetahui bahwa perbuatan itu merupakan dosa, mengakui bahwa kita telah melakukannya, dan berusaha melepaskan diri dari akibat buruk dari dosa tersebut baik di dunia maupun di akhirat”. (Madarijus Salikin: 1/235)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah juga pernah ditanya tentang orang yang melakukan kecurangan ketika jual-beli, maka beliaupun menjawab:

فعليه التوبة إلى الله, وعليه رد الزيادة إلى صاحبها إن كان يعرفه وإن كان ما يعرفه يتصدق بالزيادة التي أخذها بغير حق.

“Maka ia wajib bertaubat kepada Allah, dan wajib mengembalikan kelebihan uang yang ia dapatkan dengan cara tersebut kepada pemiliknya apabila ia mengetahui pemiliknya, dan apabila ia tidak mengetahuinya hendaklah ia bersedekah dengan kelebihan uang yang telah ia peroleh dengan cara yang tidak benar”. (binbaz.org.sa)

Baca Juga:  Legalnya Minuman Keras Tanda Dekat Hari Kiamat

Maka, dengan demikian insya Allah taubatnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun jika kita tidak lagi mengingat berapa jumlah uang yang pernah dicurangi, maka tentunya berusahalah untuk memperkirakannya, kemudian perbanyaklah melakukan amal shaleh seperti sedekah dan sebagainya.

Dan Rasulullah Shallalahu alaihi wasalam bersabda:

وأتبع السيئة الحسنة تمحها

“Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik tersebut menghapus nya (perbuatan buruk)”. (HR. Tirmidzi: 1910)

Demikianlah, semoga menjadi Imu yang bermanfaat, Wallahu A’lam.(bbs)