Kisah Zainul Abidin Ali, Cucu Ali Bin Abi Thalib (3)

Ilustrasi pasar jaman dahulu. (Foto: Net)

Moeslim.id | Kisah berikutnya dituturkan oleh pembantunya sendiri, Aku adalah pembantu Ali bin Husein. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.

Aku menangis bercampur marah sebab dia tak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata; “Allah… Allah… Wahai Ali bin Husein, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah kupenuhi Anda justru memukulku?”.

Ia terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata; “Pergilah ke Masjid Nabawi, shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah; ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husein. Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan’. Aku mengikuti kata-katanya. Aku shalat dan berdoa seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumahnya, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka”.

Baca Juga:  Muhammad Al Ahmar Pahlawan Muslim Dari Granada (1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan tanah pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.

Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat. Begitulah, kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang shalih. Di antara amal shalih yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.