
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata; “Seandainya mengkhususkan ibadah pada malam tersebut disyari’atkan tentunya malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam selainnya. Sebab, hari Jum’at merupakan hari yang paling utama berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Karenanya, ketika Nabi Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan ummatnya dari mengkhususkannya dengan shalat malam, maka hal itu menunjukkan bahwa malam selainnya lebih utama untuk tidak boleh kecuali ada dalil yang mengkhususkannya”.
Oleh karena itu, ketika malam Lailatul Qadar dan malam-malam di bulan Ramadhan disyari’atkan untuk dihidupkan dengan ibadah, maka Nabi Shallallahu alaihi wasallam menganjurkan ummatnya untuk menghidupkannya dan beliau sendiri juga memberikan teladan.
Seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama di bulan Rajab, atau malam Isra Mi’raj disyari’atkan untuk mengkhususkannya dengan perayaan atau ibadah tertentu, tentu Nabi Shallallahu alaihi wasallam akan menganjurkannya kepada ummat beliau atau mencontohkannya.
Dan seandainya hal itu terjadi, niscaya akan dinukil oleh para Shahabat kepada ummat dan mereka tidak akan menyembunyikannya. Sebab, mereka adalah sebaik-baik manusia dan bersemangat memberi nasihat setelah para Nabi. (At Tahdziir Minal Bida, hlm. 15-16).(*)








