
Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Ia menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami barulah beliau memakannya.
Ia mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Ia memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Ia senantiasa mendorong kami, untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya.
Ia melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami.
Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, ia memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat Id. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhhiyah.
Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya.








