
Raja bin Haiwah menceritakan peristiwa bersejarah tersebut, di awal hari Jumat di bulan Safar tahun 99 H, aku mendampingi Amirul Mu’minin Sulaiman di Dabik.
Saat itu Amirul Mu’minin telah mengirimkan suatu pasukan yang kuat untuk menggempur Turki di bawah komandan saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan didampingi putra beliau Dawud, beserta sebagian besar dari keluarganya. Ia telah bertekad untuk tidak meninggalkan Dabik sebelum menguasai Konstantinopel atau mati.
Ketika waktu telah mendekati shalat Jumat, Amirul Mu’minin berwudhu dengan sebagus-bagus wudhu, memakai jubah berwarna hijau dan surbannya berwarna hijau pula. Ia merasa bangga melihat keadaannya di cermin yang terlihat masih muda, di mana saat itu usia khalifah baru sekitar 40 tahun.
Kemudian ia keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama orang-orang. Sepulangnya dari shalat Jumat, tiba-tiba ia merasa demam. Rasa sakit tersebut kian hari bertambah parah. Sehingga ia meminta agar aku (Raja) senantiasa dekat di samping beliau.
Suatu kali, ketika aku masuk ke ruangan khalifah, aku dapati Amirul Mu’minin sedang menulis sesuatu. Aku bertanya; “Apa yang sedang Anda lakukan wahai Amirul Mu’minin?”. Ia menjawab; “Aku menulis wasiat untuk penggantiku yakni putraku Ayyub”.








