
Aku berkata; “Wahai Amirul Mu’minin, ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan Anda dari tanggung jawab kelak di hadapan Allah adalah dengan menunjuk seorang pengganti yang shalih untuk umat ini. Sedangkan putra Anda itu masih terlampau kecil, belum dewasa, belum dapat dijamin kebaikan dan keburukannya”.
Ia berkata; “Ini hanya tulisan main-main saja. Untuk itu, aku hendak shalat istikharah dahulu”. Kemudian beliau merobek tulisan tersebut.
Setelah satu atau dua hari kemudian aku dipanggil dan ditanya; “Bagaimana pendapatmu tentang putraku, Dawud wahai Abu Miqdam?”.
Aku berkata; “Dia tidak ada di sini. Dia sedang berada di medan perang di Konstantinopel bersama kaum muslimin dan Anda sendiri tidak mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah gugur”.
Ia berkata; “Menurutmu, siapakah gerangan yang pantas menggantikan aku wahai Raja?”.








