Sejarah Wabah yang Pernah Melanda Kaum Muslimin

MOESLIM.ID | Sepanjang perjalanan sejarah dunia, wabah penyakit telah menghancurkan banyak umat manusia, mengubah jalannya sejarah, dan terkadang menandakan akhir dari seluruh peradaban.

Kolera, wabah pes, cacar, dan influenza adalah beberapa pembunuh paling brutal dalam sejarah manusia. Wabah penyakit cacar sepanjang sejarah ini telah membunuh antara 300-500 juta orang dalam 12.000 tahun keberadaannya.

Wabah penyakit ini melintasi perbatasan secara internasional, dan secara tepat didefinisikan sebagai pandemi. Ilmuwan dan peneliti medis selama bertahun-tahun masih berbeda pendapat mengenai definisi pasti dari pandemi.

Tetapi satu hal yang disepakati semua orang adalah bahwa kata tersebut menggambarkan penyebaran penyakit, melebihi apa yang biasanya mungkin terjadi, pada suatu wilayah geografis.

TAHUN 18 H

Imam At Thabari mengisahkan bahwa pada saat terjadi Tha’un Amwaas di negeri Syam, wabah tersebut telah merenggut jiwa banyak orang, termasuk gubernur Syam kala itu, yaitu Abu Ubaidah Amir bin Al Jarrah, dan kemudian juga merenggut jiwa gubernur selanjutnya yaitu sahabat Mu’az bin Jabal.

Tatkala sahabat Amr bin Al Ash ditunjuk sebagai gubernur, beliau berkhutbah dan berkata kepada penduduk Syam:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ إِذَا وَقَعَ فَإِنَّمَا يَشْتَعِلُ اشْتِعَالَ النَّارِ، فتجبلوا منه في الجبال

Baca Juga:  Subhanallah! Inilah Manfaat Luar Biasa Dari Keluarnya Darah Haid

“Wahai masyarakat sekalian, sesungguhnya wabah penyakit ini bila telah melanda, maka akan cepat menyebar bagaikan api yang berkobar-kobar, maka dari itu hendaknya kalian pergi ke gunung gunung.”

Mendengar anjuran sang gubernur ini, sahabat Watsilah Al Huzali berkata: “Engkau salah besar, sungguh demi Allah, aku telah menjadi sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan engkau (wahai Amr) ketika itu masih dalam kondisi lebih buruk dibanding keledaiku ini (masih kafir).”

Mendapat sanggahan ini, sahabat Amr berkata: “Sungguh demi Allah aku tidak akan membantah ucapanmu, sungguh demi Allah aku tidak akan menetap/berdiam diri di kota ini.”

Kemudian sahabat Amr bin Al Ash segera bergegas mengasingkan diri di pegunungan, dan masyarakatpun segera berhamburan mengikutinya, dengan menyebar ke pegunungan. Tak selang berapa lama, Allah mengangkat wabah Tha’un dari negeri Syam.

Tatkala berita tentang sikap sahabat Amr bin Al Ash ini sampai kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab, sungguh demi Allah beliau tidak mengingkarinya. (At Thobari dengan sanad yang lemah)

Walaupun lemah sanadnya, namun ini bukan riwayat yang berkaitan dengan hukum, dan biasanya para ahli sejarah sangat toleran dalam membawakan riwayat semacam ini dalam hal hal sejarah dan yang serupa, karena tidak berkaitan dengan halal dan haram.

Baca Juga:  Taubat Nashuha Jadi Pintu Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Apalagi tindakan sahabat Amr bin Al Ash di atas masih dapat ditoleransi sebagai bentuk upaya mencegah penyebaran penyakit, yang diajarkan dalam sunnah yaitu membatasi interaksi sosial masyarakat.

Bila mereka pergi ke gunung gunung, maka itu berarti mereka meninggalkan masjid-masjid dan tidak berjamaah di masjid.

TAHUN 448 H

Imam Az Zahabi mengisahkan bahwa pada tahun 448 H, di negeri Mesir dan Andalusia terjadi paceklik dan wabah yang dahsyat, bahkan tidak pernah terjadi kekeringan dan wabah yang lebih dahsyat dari yang terjadi kala itu di negeri Qordoba dan Isybiliya (Sevilla), sampai-sampai seluruh masjid ditutup, tanpa ada seorangpun yang mendirikan sholat di dalamnya. Dan tahun itu dikenal dengan tahun kelaparan dahsyat. (Siyar A’alam An Nubala: 13/438)

TAHUN 449 H

Ibnu Jauzi juga mengisahkan bahwa pada tahun 449 H, terjadi wabah yang sangat dahsyat di negri Ahvaz, Wasit dan sekitarnya. Sampai sampai 20 hingga 30 orang dikuburkan dalam satu lubang.

Baca Juga:  Keberkahan Sahur Bagi Orang yang Berpuasa di Bulan Ramadhan

Banyak dari kaum fuqara yang terpaksa makan daging anjing, bahkan sebagian mereka sampai makan daging mayat manusia. Dikisahkan, banyak keluarga yang masih menyimpan khamr, anggota rumah tersebut mati secara bersamaan.

Begitu dahsyatnya wabah yang melanda, sehingga masjid-masjid menjadi kosong, tidak ada yang mendirikan shalat di dalamnya.

Masyarakat setempat bersegera bertaubat, menyedekahkan harta mereka, menumpahkan khamr, mematahkan alat-alat musik, memperbanyak baca Al-Qur’an. (Al-Muntazham oleh Ibnu Al-Jauzi 16/17-18)

TAHUN 827 H

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengisahkan kejadian pada awal tahun 827 H, bahwa di kota Makkah terjadi wabah yang dahsyat. Setiap hari rata-rata berjatuhan korban meninggal sekitar 40 orang. Pada bulan Rabi’ul Awwal saja, korban meninggal ditaksir mencapai 1700 jiwa.

Dikisahkan bahwa imam shalat yang mendirikan shalat di depan Maqam Ibrahim, yang memimpin shalat para pengikut mazhab As-Syafii hanya diikuti oleh 2 orang saja. Sedangkan imam-imam jamaah pengikut mazhab lainnya sama sekali tidak mendirikan jamaah, karena tidak seorangpun yang mengikuti shalat mereka. (Inba’ul Ghumri bi Abna’il Umri oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani 3/326).(bbs)