Tips Bersosial Media yang Baik dan Berpahala

MOESLIM.ID | Media sosial adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Akhir-akhir ini kita dipusingkan dengan berbagai kabar palsu yang masuk ke smartphone kita. Kadang kita larut dalam kemarahan karena kabar tersebut membuat hati kita teriris, sehingga secara spontan kita membagikan ke semua kontak dan grup yang ada di hp. Unfortunately, ternyata saat dicek, kabar itu palsu alias hoax.

Berikut lima tips agar kamu bersosial media yang baik dan mendatangkan pahala sesuai dengan ajaran Islam.

Pertama, Untuk Bersilaturahmi

Ketika alat komunikasi belum secanggih masa kini, orang-orang menggunakan surat untuk bersilaturahmi. Perkawanan model seperti itu disebut sebagai ‘sahabat pena’. Walau jarang atau bahkan tidak pernah bertemu, tapi persahabatan model seperti ini membuat mereka seakan-akan jadi keluarga. Contohnya adalah Kartini dan para sahabat penanya.

Semestinya di era media sosial seperti ini persahabatan dan kekeluargaan lebih mudah dijalin. Silaturahmi adalah ajaran agama Islam yang mesti diamalkan. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga:  Tidur Saat Khutbah Jumat, Apakah Batal Wudhunya?

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, dan agar diakhirkan sisa umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahim”. (HR. Bukhari, no. 5985)

Kedua, Cek Kebenaran Suatu Kabar

Tidak jarang kabar simpang siur masuk ke hp kita. Tahan, jangan asal main sebar, khususnya pada kabar-kabar negatif provokatif. Mari kita cek kebenaran itu terlebih dahulu. Jika mengenal sosok-sosok yang ada di broadcast-an, segera tabayun kepada yang bersangkutan atau ke orang-orang yang mengenalnya lebih dekat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu“. (QS. Al Hujurat: 6)

Ketiga, Sampaikan Kebenaran dan Hal Positif

Menyampaikan yang benar dan baik memang bukan hal yang mudah. Hal ini mesti mempertimbangkan beberapa hal dan tentunya setelah melewati proses check and recheck terlebih dahulu. Jangan sampai kita menganggap kabar bohong sebagai kebenaran, lalu menjerumuskan diri kita pada jurang fitnah. Na’udzubillahi min dzalik. Jika suatu informasi itu sudah benar, maka sampaikanlah agar membawa manfaat kepada yang lain. Klik, komen, share.

Sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga:  Pengobatan Syar'i Dengan Al Qur'an dan Panduan Nabi

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. (HR. Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar Radhiyallahu anhuma)

Keempat, Jangan Menyebar Fitnah

Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, untuk itu kita harus berhati-hati dalam membuat status, membuat meme, menyebar sesuatu yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa? Karena fitnah ini bisa membuat seseorang terdzalimi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلۡفِتۡنَةُ أَڪۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِ‌ۗ

“Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh”. (QS. Al Baqarah: 217)

Jika ternyata apa yang kita buat dan sebar adalah fitnah yang membuat seseorang terzalimi, kemudian ia mendoakan keburukan pada kita? Jangan sampai, ya…

Kelima, Berprinsip Praduga Tak Bersalah

Seringkali dijumpai di sosmed seseorang menghujat orang lain yang dianggap bersalah dengan kata-kata makian. Duh, jangan ditiru ya. Karena ada dua dosa yang ditanggung, dosa menghukumi tanpa bukti dan dosa memaki. Lebih-lebih jika yang dihujat dan fitnah adalah orang beriman.

Baca Juga:  Tiga Syarat Utama Agar Do'amu Dikabulkan, Apa Sajakah?

Terkait praduga tidak bersalah, dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat: 12)

Nah, itulah beberapa tips untuk menjaga etika kita di sosial media yang baik dan mendatangkan pahala sesuai dengan ajaran Islam. Semoga kita bisa menjadi umat Rasulullah yang mengikuti ajaran Islam yang salam (damai) tanpa hoax. Wallahua’lam bis shawab.(bbs)