
Masih terngiang dalam ingatan Muhammad Al Hanafiyyah ketika peristiwa Shiffin. Bertahun telah dilalui, namun dia tak mampu menepis suara yang lantang dan mengharukan itu.
Terngiang-ngiang seruannya; “Wahai kaum muslimin.. wahai saudara-saudara muslimin… ingatlah Allah.. Allah.. wahai saudara-saudara muslimin..! Untuk siapa lagi wanita dan anak-anak kita? Siapa yang akan membela agama dan kehormatan kita dari Romawi dan orang-orang Dailam?”.
Muhammad Al Hanafiyyah benar-benar tak mampu melupakan hal itu. Ia berkata kepada Abdullah bin Zubair; “Engkau tahu benar bahwa aku tidak ingin melakukan hal itu. Kedudukanku hanyalah sebagai seorang muslim. Bila seluruh muslimin telah bersepakat atas salah satu dari kalian, maka aku tidak keberatan untuk berbai’at kepada engkau maupun dia. Untuk sementara saya belum ingin berbai’at baik kepadamu maupun kepadanya”.
Namun Abdullah bin Zubair terus berusaha membujuknya. Terkadang dengan halus dan sebentar dengan kasar. Dalam waktu yang tak terlalu lama banyak orang yang bergabung dengan Muhammad Al Hanafiyyah karena sependapat dengannya.
Mereka menyerahkan kepemimpinan kepada Muhammad, jumlah mereka mencapai tujuh ribu orang. Mereka lebih mengutamakan menjauhi fitnah dan ingin menjauhkan diri dari api neraka.








